Kali ini kami memposting sebuah kisah sorang ibu yg begitu rela mengorbankan seluruh jiwa dan raganya hanya untuk menggapai cita-cita sang anak, kisah ini sengaja kami posting agar sahabat bisa menilai seberapa besar pengorbanan sahabat terhadap seorang ibu yang sudah bersusah payah membesarkan kita mulai dari dalam kandungan sampai tumbuh dewasa, yuk kita simak perjalanan sang ibu dan anak ini hingga anaknya berhasil menggapai cita-citanya.
Disuatu daerah hiduplah seorang ibu yang bisu dan tinggal dikampung yang sangat kumuh, ibu ini tidak punya pekerjaan yang layak, setiap harinya sang ibu hanya bekerja sebagai pemulung barang bekas yang tidak seberapa hasilnya. ibu ini memiliki seorang putri yang sangat cantik dan pintar. suatu hari sang anak bermain dengan temannya, tapi setiap mereka bermain temannya slalu bertanya kepada sang anak, kenapa kamu gak sekolah dan kapan nie kamu sekolahnya, enak lho sekolah banyak teman-temannya. awalnya sang anak ini masih bisa menahan keinginannya untuk bersekolah, tapi lama-kelamaan sang anak inipun tidak tahan karena setiap bermain slalu pertanyaan itu saja yang dilontarkan temannya, karna tidak tahannya sang anak, sang anak ini pun berlari menjumpai sang ibu yang lagi memungut barang-barang bekas dijalan, keesokan harinya sang ibu mengantarkan anaknya kesekolah, tapi sekolah tersebut tidak mau menerima sang anak dikarenakan sang anak tidak memiliki alamat yang jelas. sang ibu pun berlutut dihadapan guru-guru sambil menagis dan memohon agar anaknya diterima disekolah tersebut, tapi tetap saja pihak sekolah menolaknya, keesokan paginya sang ibu mengajak anaknya untuk memungut barang-barang bekas di area komplek perumahan elit, tanpa sengaja sang anak mendengarkan alunan musik biola yang terdengar indah dan merdu, sang anakpun mendekati rumah yang menjadi sumber alunan biola tersebut, ketika sang anak mendekat ada seekor anjing yang menggonggong dari depan rumahnya, sang ibu pun ketakutan sambil berlari membawa gerobak sampahnya. karena terburu-terburunya, gerobak tersebut menabrak anjing pemilik rumah, dan pemilik rumahpun keluar dan menahan mereka. tiba-tiba pemilik rumah bertanya, umur berapakah anak ibu ini ?? bolehkah saya mengajarkannya tentang bermain biola tapi karna sang ibu bisu pemilik rumahpun memakai bahasa tubuh untuk meminta izin kepada sang ibu agar anaknya tinggal dirumah guru biola ini, sang ibu pun berlutut dihadapan guru biola tersebut sambil meneteskan air mata, 1 tahun kemudian sang ibu mendatangi rumah guru biola ini untuk memberikan uang sebesar 1juta dari hasil memulungnya, untuk membayar iuran sekolah sang anak, tapi guru biola ini tidak tega menerima uang sang ibu, dua bulan kemudian sang anak mengikuti kontes biola sekabupaten, dan ketika sang anak tampil sang ibu datang dan melihat anaknya dari kejauhan sambil membawa gerobak sampahnya, karena sang anak melihat sang ibu datang, sang anak pun semakin semangat dan membawakan alunan biola yang begitu dalam, akhirnya sang anak mendapat juara pertama, 1 tahun kemudian anaknya mengikuti kontes biola se provinsi, dan ketika sang anak tampil ibunya datang dan melihat anaknya dari kejauhan sambil membawa gerobaknya, karena sang anak melihat sang ibu datang sang anakpun semakin semnagat dan memainkan irama biola yang sangat-sangat menyentuh dewan juri, dan akhirnya sang anakpun mendapat juara pertama. karena sang anak berprestasi terus sang guru biola menyarankan agar sang anak pergi ke luar daerah untuk mengembangkan bakatnya, sang anak meminta izin kepada sang ibu, kemudian sang ibu menunjuk bintang dilangit dan memukul - mukul pundak sang anak. ibu itu berkata raihlah cita-citamu setinggi-tingginya, tidak berapa lama sang anak mengikuti kontes tingkat internasional, dan sang anakpun memenangkan kontes tersebut, lalu sang anak mengajak ibunya untuk tinggal bersamanya dirumah yg lebih layak, tapi ibunya menolak karena ibunya merasa tidak pantas tinggal dirumah tersebut dan lebih memilih untuk tinggal ditempat yang kumuh. sebelum pergi ibunya menitipkan sebuah surat yang isinya jangan pernah kamu cari lagi ibu nak, ibu tidak akan mengganggu kehidupanmu, teruslah berkarya dan jangan pernah sombong, setelah membaca surat itu sang anak langsung meneteskan air mata, 1 tahun kemudian sang anak berkunjung kepemukiman sang ibu betapa kagetnya sang anak ketika mengetahui kalau sang ibu sudah meninggal, begitu besar rasa penyesalan sang anak yang tidak bisa mendampingi ibunya disaat ibunya masih ada. tiba-tiba mata sang anak tertuju kepada sebuah goni yang sudah lusuh dan kering lalu dibukalah goni tersebut. ternyata sang anak adalah anak yang ditemukan dijalan ketika sang ibu sedang mengemis sambil melampirkan photo kedua orang tua sang anak.
gimana sahabat ceritanya, masih mau durhaka kepada orang tua ?? sang ibu yang jelas-jelas sang anak bukan anak kandungnya ajah rela mengorbankan seluruh jiwa dan raganya buat sang anak, apalagi kita yang masih punya ibu kandung, semoga artikel ini menjadi renungan buat kita semua, sampai ketemu diartikel kami selanjutnya,,
wassalam.
No comments:
Post a Comment